Archive

Archive for April, 2012

Awas…Strategi Perusahaan perlu dikomunikasikan !!! 120109

April 22nd, 2012 2 comments

Baru saja kami menangani perusahaan yang sedang mengejar target 1,23 Triliun di tahun ini. Suatu target yang tidak main-main dan perlu perjuangan berat untuk mencapainya. Karenanya  level top management sangat mengerti akan pentingnya pengukuran growth, liquidity, efficeincy dan profitability. Dipastikan dalam tiap meeting, faktor-faktor ini akan terus menerus dimonitor dengan ketat

Masalahnya, level yang lebih bawah sering salah menafsirkan petunjuk dan arahan dari level top management. Dikira mereka bahwa top level hanya mementingkan duit dan tidak mau tahu akan kesulitan mereka….Inilah masalah klasik yang sering kami temui dalam internal perusahaan…..terjadi miscommunication antara level strategic dan level operasional …

 Nah, miscommunication memang sering terjadi di banyak perusahaan lainnya. Berdasarkan observasi kami, 70% masalah di organisasi disebabkan oleh misscommunication. Baik di level corporate, antar department, maunpun di level antar individu. Tidak aneh kalau apa yang dimaksudkan dan diinginkan  oleh manajemen puncak seringkali diterjemahkan secara berbeda di level operasional.

  

Ini cara  Group besar dari Indonesia Timur untuk  mengurangi bahaya miscommunication,

bagaimana dengan organisasi anda?

Sebelumnya  kami juga pernah menangani masalah yang disebabkan oleh miscommunication di salah satu perusahaan besar yang dibeli oleh perusahaan Pilipina. Seperti biasa, manajemen puncak selalu berfokus pada pencapaian target perusahaan dan mengharapkan lapisan dibawahnya juga mempunyai tujuan yang sama. Mereka ingin agar karyawan lebih peduli terhadap kemajuan perusahaan dan berusaha berkontribusi lebih kepada keuntungan perusahaan.

Sayangnya karena komunikasi internal yang kurang tepat, di lapisan bawah justru terjadi keresahan. Sebelum saat pulang (jam 5 sore), para karyawan sudah pada antri di depan mesin absensi. Jarang ada yang berusaha berkontribusi lebih, misalnya dengan menghabiskan lebih bayak waktu bekerja di kantor. Ketika ditanya mengapa,  mereka memberikan jawaban yang mungkin anda sering dengar. “Teng-Go”. Maksudnya sudah saatnya pulang, ngapain lama-lama di kantor. Nggak bakal dibayar lebih deh. Rupanya kalau pulang lebih larut, dianggap hanya buang-buang waktu dan dijadikan “sapi perah”. Wah apa yang sedang terjadi ?

Manajemen puncak perusahaan ini – yang banyak terdiri dari ekspat – pun terheran-heran dengan fenomena ini. Kok para karyawan sudah antri ingin clock-out sebelum jam pulang berakhir? Akhirnya kami dipanggil untuk menemukan akar masalahnya. Ternyata…

Ternyata telah terjadi miscommunication antara manajamen dengan karyawannya.

Dalam sebuah Focus Group Discusssion,  ada pegawai yang menyampaikan unek-uneknya: “ Mau meningkatkan kinerja perusahaan? Pulang lebih malam? Ini ibaratnya seperti mendorong mobil yang mogok. Kami diminta untuk mendorongnya rame-rame. Namun kalau mobilnya sudah jalan apakah kami juga diajak masuk? Kami kawatir kalau ujung-ujungnya malah ditinggal begitu saja….”.

” Mereka enak duduk di mobil ber-AC yang sudah jalan, kami hanya menghirup bau knalpot-nya saja….”, wakil dari karyawan menimpali. Tragis kalau pegawai sampai berkata begitu. Kalau dibiarkan terus menerus, ujung-ujungnya pegawai akan ter de-motivasi.

Susahnya,  ruang untuk berkomunikasi juga terbatas dan sering salah pendekatan. Jarang bahkan hampir tidak pernah perusahaan berdialog dengan internal customers-nya sendiri. Pemimpin puncak lebih giat  mencari customer insight, tetapi lupa menggali employee insight.  Mungkin karena dilandasi pemikiran bahwa mengejar customer insight lebih cepat mendatangkan fulus bagi perusahaan, sedangkan menggali employee insight hanya akan menambah cost dan beban pikiran bagi perusahaan.

Pemimpin puncak karenanya juga lebih sibuk mencoba tampil di depan publik ekternal dengan mengkomunikasikan betapa bonafidnya  perusahaan tersebut, dengan fakta, data dan angka-angka profit. Juga mengkomunikasikan kepada publik seakan-akan perusahaan sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility). Pemimpin puncak tidak sungkan-sungkan mengeluarkan biaya yang besar dalam berpartisipasi di kegiatan tersebut, namun pelit mengeluarkan investasi untuk meningkatkan komunikasi dengan pegawainya sendiri. …

Bisa ditebak akan terjadilah rumor-rumor yang meresahkan dan mengganggu produktifitas kerja. Ujung-ujungnya jelas akan mengganggu pelayanan kepada konsumen. Kalau konsumen tidak puas, mana ada yang bersedia membeli produk/jasa perusahaan! Akibatnya dalam jangka panjang tentunya mempengaruhi  profitabilitas.

Kasus nyata akibat miscommunication juga  terjadi di salah satu bank yang sudah di-komplain oleh banyak nasabahnya. Untungnya tahun ini bank tersebut sadar dan mulai bergerak. Mereka mulai mencari tahu  mengapa komplain itu terjadi dengan cara memanggil konsultan. Hasil akhir menunjukkan bahwa komplain nasabah dimulai dari pegawai yang tidak puas dan merasa tidak didengar oleh manajemen. Masalah klasik komunikasi internal…!!

Riset pengaruh  komunikasi internal terhadap  efisiensi  kerja karyawan pernah dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara III Medan. Berdasarkan riset tersebut didapat pengaruh komunikasi internal terhadap efisiensi kerja karyawan, yakni sebesar 73,6%. Wow, suatu angka yang cukup signifikan. Ini berarti jikalau komunikasi internal ditingkatkan, efisiensi kerja karyawan juga akan meningkat secara signifikan.

Apakah Strategi Perusahaan anda sudah dikomunikasikan sampai ke level terbawah?

.

Salam Strategis

Daniel Saputro 0819-0830-9519

danielbusinessdoctor@gmail.com

Categories: Uncategorized Tags:

Perlukah Strategic Thinking untuk Middle Managers

April 3rd, 2012 6 comments

Perlukah berpikir strategis…?

Minggu lalu kami menangani suatu perusahaan yang sedang mengejar omzet 1,3 Triliun. Ini merupakan target kenaikan sebesar 20% dari tahun sebelumnya.

Untuk mengejar target ini, maka top management telah mencanangkan banyak gebrakan, antara lain :

1. menambah unit usaha dari 3 menjadi 7 unit bisnis

2. mengurangi biaya dan memaksimalkan asset

3. Go Public di tahun 2013, untuk mendapatkan dana segar dan murah tentunya :)

Permasalahannya adalah:

Niat top management sering kali tidak dimengerti oleh lapisan yang lebih bawah. Mereka yang berkutat di level operasional sering kali hanya berpikir jangka pendek dan sekedar menjalankan rutinitas. Karenanya sering kali petunjuk dari top management tidak dimengerti oleh lapisan bawah. Akibatnya : terjadilah mispersepsi yang berujung pada kegagalan eksekusi  RKAP

Solusi yang diusulkan:

Perlu adanya perubahan paradigma. Untuk mengejar taget 1,3 Triliun tersebut diperlukan perubahan dan pergeseran paradigma.  Untuk memulainya, lakukanlah Kick Off Meeting, lalu diisi dengan semangat ” We are in War!!!!”. Langkah berikutnya: sertakan level manager operational dalam pelatihan yang bersifat strategic thinking. Karena perubahan tidak hanya harus disosialisasikan, tetapi juga harus di internalisasikan.

Semoga berhasil dalam transformasinya

Salam Strategis

Daniel Saputro 0819-0830-9519

danielbusinessdoctor@gmail.com

======================================================================

Categories: Uncategorized Tags: