Home > Uncategorized > Mengapa bisnis keluarga berpotensi untuk “pecah”?

Mengapa bisnis keluarga berpotensi untuk “pecah”?

September 3rd, 2012 Leave a comment Go to comments

Kata orang bijak, jangan berbisnis dengan keluarga sendiri. Mengapa?

Ini dia jawabannya:

1. Apa yang terjadi di kantor, akan terbawa-bawa ke lingkungan keluarga. Bahkan akhirnya suami istri bisa bercerai

Contoh adalah kasus pecah kongsi pemilik ayam goreng merek Suharti. Pasangan suami-isteri pemilik jaringan restoran asal Yogyakarta tersebut, yakni Bambang Sachlan Praptohardjo dan Suharti akhirnya bercerai setelah 30 tahun menjalankan usaha bersama. Pemicunya, masalah pribadi. Bahkan, sempat diberitakan, Suharti adalah pihak yang dirugikan karena hampir semua aset bisnis dimiliki atas nama sang suami. Tak heran proses perceraian mereka berjalan alot.

2. Biasanya akan panjang urusannya karena akan merembet ke anggota keluarga lainnya. Bahkan saudara sendiri juga dapat berselisih paham. Lihat saja kasusnya Blue Bird yang sempat heboh di media

3. Bisnis keluarga bisa terjerumus kedalam hutang yang dalam. Lihat saja kasus Saint Mary, yang dulunya sangat berjaya, namun terjerembab karena tidak menjaga profesionalisme dan GCG.

Setujukah anda dengan pendapat diatas?  Apa solusi yang pembaca tawarkan untuk membuat bisnis keluarga awet dan panjang umur?

Tanggapan anda juga bisa dikirimkan ke: danielbusinessdoctor@gmail.com

Salam

Daniel Saputro

0819-0830-9519

Categories: Uncategorized Tags:
  1. tari
    August 30th, 2014 at 15:53 | #1

    kalau bisa suami istri melakukan usaha bersama tetap membuat perjanjian kerjasama, dimana didalamnya diatur hak dan kewajiban dan batas2 wewenangnya, walaupun usaha tersebut berbentuk badan usaha tidak berbadan hukum sekalipun. Di dalam perjanjian juga dapat diatur modal yang disetor masing2, dan pembagian keuntungannya. dalam pembagian keuntungan juga sebaiknya diatur berapa prosentase sesuai modal yang disetor dan berapa proses alokasi untuk kas usaha (yang tujuannya untuk asset usaha dan tentu masuk sebagai harta bersama bila usaha didirikan pada waktu sdh menikah), dan berapa prosentase alokasi untuk pembiayaan rumah tangga mereka. Sampai diatur juga masalah tindakan yang harus dilakukan seandainya ada perceraian, bagaimana harta bersama tersebut dibagi mengingat mungkin ada modal didalamnya yang merupakan hartawa bawaan masing2. sehingga bila terjadi perceraian tidak lagi ada kerumitan semua base on contract. dan jangan lupa dibuat rangkap dan bermaterai cukup.

    semoga bisa bermanfaat

  2. edwin agustian
    October 17th, 2014 at 11:35 | #2

    Saya juga masih sangat muda untuk mengomentari maslah ini , akan tetapi pendapat saya adalah dibuat perusahaan dengan badan hukum yang baru. seperti yang saya lihat juga dengan sejarah perusahaan saya sekarang, yakni penjual kendaraan roda empat sejak tahun 1960 , hal ini sudah biasa terjadi namun langkah yang dilakukan pendirinya adalah membuat sebuat perusahaan baru “holding” yang menampung hasil keuntungan usaha yang kemudian diberikan surat wasiat dari orang tua untuk anak2 nya…..tanpa mengganggu establish nya perusahaan lama yang terus bergerak…..sekian dari saya ada yang bisa mengkoreksi saya mohon masukannya juga……

  3. Bob
    June 29th, 2015 at 10:07 | #3

    Menurut saya, dalam bisnis perlu selalu diingat bahwa uang tidak punya teman dan tidak kenal saudara. Artinya, bersikaplah profesional seolah-olah kita sedang berbisnis dengan partner yang bukan teman dekat dan bukan saudara. Selalu berpegang pada visi, tetapkan rencana, berharap yang terbaik buat perusahaan, tapi persiapkan hal-hal yang terburuk misalnya kebangkrutan. Perusahaan boleh bangkrut, tapi jangan sampai hubungan rusak.

  4. May 2nd, 2016 at 12:41 | #4

    Bisnis keluarga rentan untuk pecah karena faktor pengaruh dari pasangan. Jika anak dari bisnis keluarga ini sudah ikut dalam bisnis keluarga akan meningkatkan kerumitan dalam bisnis keluarga.

  1. No trackbacks yet.