Home > Uncategorized > Review: Penerapan Good to Great 2013 di Indonesia

Review: Penerapan Good to Great 2013 di Indonesia

Ikuti diskusi penerapan Good to Great di perusahaan Indonesia secara ONLINE via What’s Up

Senin 7 Jan 2013, jam 17.00-19.00. Daripada macet di jalan lebih baik nambah ilmu dan teman. Untung baca KONTAN

Caranya:

1. daftar dulu  lewat sms REVIEW ke 0819-0830-9519. Tanpa daftar tidak tertera dalam database diskusi

2. pada tanggal dan jam yang telah ditentukan, silahkan bertanya dan berdiskusi. Cocok untuk level manajer dan direktur. Pemilik bisnis dan penerusnya.

Gratis RINGKASAN buku ini saat diskusi !!!

Next topic: apa saran anda? Kirimkan via What’s Up

=========================================================================

Buku Jim Collins yang satu ini memang benar-benar memukau para pebisnis Indonesia. Bahkan di salah satu klien kami, buku ini dibagikan gratis kepada seluruh manajer dan disarankan untuk dibaca. Walau fenomenal, buku ini juga menuai banyak kritik karena terbukti 2 dari 11 perusahaan yang disebutnya sebagai GREAT, ternyata sudah kolaps yakni  Circuit City dan Fannie Mae. Lainya seperti “Abbott Labs dan Wells Fargo sedang berjuang keras agar tidak tenggelam.

Salah satu kalimatnya yang paling terkenal di buku ini adalah: “Baik (good) adalah musuhnya hebat (great).”

Menurutnya ada 6  hal yang harus diperhatikan jika organisasi anda ingin GREAT, yakni:
1.  “Level 5 leadership.  Hal utama yang membedakan adalah, bahwa para pemimpin level 5 ini mempunyai karakter yang paradoks dalam hal kesederhanaan sebagai individu dan ambisi sebagai seorang professional. Pemimpin level 5 adalah orang yang rendah hati, tidak menonjolkan diri, dan banyak memberikan kredit atas kontribusi pihak lain. Namun di saat yang sama, dia juga mempunyai determinasi, kapasitas, dan ambisi yang kuat sebagai seorang professional.  Bagaimana dengan Virgin Group dengan Richard Branson? Atau Apple dengan Steve Jobs yang cenderung menonjolkan diri? Adakah pemimpin seperti ini di Indonesia?

2. “First who, then what“.  Perlunya merekrut orang-orang terbaik dalam bidangnya masing-masing. Dengan modal ini, barulah sebuah organisasi memutuskan tujuan apa yang ingin dicapai, sesuai dengan rekomendasi dan kesepakatan tim yang solid ini. Hal ini membuat semua orang dalam organisasi dapat berkontribusi maksimal. Jika organisasi memutuskan kebalikannya (first what, then who), maka organisasi akan bergantung pada 1-2 orang yang “jenius” saja, dan anggota tim yang lain hanya berfokus membantu tanpa berbuat lebih jauh. Setujukah anda? Bukankah menentukan ‘dream” seharusnya lebih dahulu dikerjakan daripada memilih orang?

3. “Confront the brutal fact”  berarti sebuah organisasi harus mempunyai budaya keterbukaan dalam hal komunikasi. Keterbukaan ini bukan dalam semangat ingin menjatuhkan, namun dalam semangat perbaikan. Pemimpin mendorong keterbukaan dengan lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada jawaban. Sedangkan para staf di level bawah dan menengah mendorong keterbukaan. Di antaranya dengan menganalisis kondisi perusahaan secara jujur, melihat kesalahan secara apa adanya tanpa ditutupi, atau apapun dalam kaitannya dengan keterbukaan untuk menerima fakta secara apa adanya. Apakah konsep ini bisa berjalan di Indonesia yang mayoritas pegawainya belum teredukasi dengan baik? Bagaimana dengan demo buruh yang makin mengkawatirkan para pemilik bisnis saat ini? Siapa yang rugi kalau kedua belah pihak sama-sama mogok produksi?

4. “Hedgehog concept”  adalah analisis organisasi yang didasarkan atas 3 pertanyaan besar: 1) aktivitas apa yang paling menarik bagi or