Archive

Archive for January, 2014

Continuos Improvement di BCA

January 21st, 2014 No comments

Ada hal yang membedakan antara sang juara dan sang pecundang.

Sang Juara selalu mengadakan perbaikan secara terus menerus. Mereka sadar betul bahwa memang saat masih bayi, tidak bisa langsung lari cepat, tetapi merangkak dulu. Namun sang bayipun tahu bahwa untuk maju , memang harus berani jatuh bangun, merangkak, berjalan tertatih-tatih sampai akhirnya dapat berlari cepat. Bigger – better – higher. Itulah semboyannya…

Kalau sang pecundang lain lagi. Perilakunya ya hanya sekedar mencapai standard. Habis itu, merasa cukup puas dan tidak mau lagi mengadakan perubahan .

Apa ya contohnya…?

Kasus nyata

Baru-baru ini penulis mengunjungi BCA Duta Mas untuk transfer uang. Penulis melihat bahwa ada perbaikan yang terus menerus dilakukan BCA yakni: pada lajur antri, fungsi tali pemisah sekarang digantikan oleh kursi duduk, sehingga tampak lebih manusiawi.

Dulunya memang sudah ada kursi, namun masih ada tali pemisah spt ini:

bankbcaduduk1

Sekarang: tali pemisah digantikan dengan kursi duduk

Untuk orang tua dan yang tak tahan berdiri lama, tentunya perubahan kecil ini sangat berdampak besar. Mereka bisa duduk sambil menunggu dipanggil. Menarik….2 thumbs up for BCA.

Inilah contoh dari perilaku sang juara yang selalu mengadakan perubahan. Kecil juga tidak apa-apa, tetapi selalu menuju kearah perbaikan.

Pertanyaan penutup: apakah organisasi anda masih bermental pecundang? Hanya memberikan sesuatu yang standard dan itu ke itu saja ke pelanggan ? Jawabannya akan menentukan  apakah perusahaan anda akan maju atau berjalan di tempat.

Semoga bermanfaat
Daniel Saputro

Senior Corporate Advisor for Change Management and Transformation

Ingin diskusi mengenai masalah bisnis dan manajemen? Silahkan ber “WhatsApp” dengan penulis di  0819-0830-9519

Categories: Uncategorized Tags:

Mengapa pegawai saya diam saja dan tidak inovatif?

January 21st, 2014 No comments

 Malas-2

Inilah salah satu keluhan yang sering kali dijumpai. “Sebelumnya ternyata mereka sudah melihat bahwa ada kerusakan yang bisa menimbulkan kemungkinan kebakaran, tetapi koq diam saja, tidak inovatif dan tidak dilaporkan ke atasannya ya,” demikian lontaran kekesalan salah satu direktur dari Filipina melihat mesin nya yang “down” karena mengebulkan asap.  

Lain lagi kekecewaan salah satu manager terhadap para supervisornya. “Saat rapat, koq semua pada diam dan cenderung “defense” ya. Seolah-olah semuanya harus saya pikirkan sendiri. Koq pegawai ini tidak kreatif ya? ” keluh sang manajer. “ Harus saya apakan pegawai seperti ini? “Kirim saja ke training” katanya kepada manajer HR. Mengamati kesulitan sang manager produksi, maka sang manajer HR lalu mengirimkan karyawannya ke training Problem Solving atau Innovative Thinking.

Ternyata setelah mengikuti training 2 hari dengan biaya mahal, hasilnya sama juga. Ada yang salah?

Ini dia jawabannya: 

Pertama. Bedakan dulu antara Proaktif – Kreatif – Inovatif.

Proaktif adalah perilaku yang tidak menunggu dan bergerak atas inisiatif pribadi. Lawannya adalah reaktif yang cenderung menunggu dan menyalahkan orang lain. Untuk kasus pertama diatas, masalahnya adalah pegawai yang tidak proaktif, jadi bukannya masalah kreatifitas.

Kreatif adalah kemampuan membuat PERBEDAAN dari yang terdahulu, misalnya tongkat merangkap kursi yang bisa dibawa-bawa. Sedangkan Inovatif berarti kreatifitas yang membuahkan hasil FINANSIAL (ada uangnya), contohnya kaca mata Google. 

Kedua, jika kita mengatakan bahwa pegawai kita tidak proaktif, tidak kreatif, tidak inovatif, maka sebenarnya penyebabnya minimal ada 3 yakni:

- si pegawai sendiri , yang memang tidak terbiasa berperilaku proaktif, kreatif dan inovatif. Umumnya kebiasaan ini dimulai dari lingkungan saat si pegawai kecil, dimana keingintahuan nya dikekang dengan cara dimarahin: Awas jangan bandel ya! Jangan coba yang aneh-aneh, sini saja, duduk jangan lari-lari dst. Begitu masuk ke bangku sekolah juga sudah diperingati: jangan melawan guru, jangan sok tahu, jangan macem-macem di kelas. Secara perlahan hilanglah perilaku proaktif, kreatif dan inovatif. Akhirnya perilaku ini terbawa sampai besar, dan tercermin dari tindak tanduknya di pekerjaan. Takut disalahin dan takut bersuara…Bisa juga diakibatkan oleh faktor gisi yang kurang dan factor pendidikan yang rendah dan factor budaya (dianggap kurangajar jika membantah yang lebih dituakan), dan factor individu (malas baca dst)

- gaya kepemimpinan atasan yang membuat si pegawai merasa tertekan tidak berani bersuara. Artinya ada kemungkinan si pegawai punya ide bagus, namun malas bersuara karena seringkali dianggap “menggurui” oleh atasannya. Baru bicara sedikit sudah langsung ditanggapi: “ Jadi kamu anggap saya tidak mengerti , kamu anggap saya bodoh ya, kamu anggap kamu pintar ya? “ . Akhirya daripada dapat masalah, si pegawai bungkam saja. “Peduli amat dah…,”katanya dalam hati. “Toh kalau kasih ide juga nggak dapat penghargaan, malah dapat pusing”.

- system dan suasana kerja yang tidak kondusif dapat mendorong pegawai bersikap cuek dan tidak memiliki sense of belonging. Misalnya: tidak ada upaya menghargai ide dan kreatifitas pegawai. Yang diterima pegawai hanyalah ucapan terima kasih saja. Intinya, tidak ada KPI yang jelas dan Merit System yang mendorong kreatifitas , seringkali dijumpai di banyak organisasi.

Pertanyaan penutup: apakah organisasi anda masih mengganggap pegawai anda memang  tidak kreatif dan malas ? Jawabannya akan menentukan  apakah training  diperlukan atau tidak.

Semoga bermanfaat
Daniel Saputro

Senior Corporate Advisor for Change Management and Transformation

Ingin diskusi mengenai masalah bisnis dan manajemen? Silahkan ber “Whats-up” dengan penulis di  0819-0830-9519

Categories: Uncategorized Tags: