Archive

Archive for June, 2014

Capres dan Persiapan Pemimpin masa depan Indonesia

June 21st, 2014 1 comment

Belum pernah pemilihan calon presiden di Indonesia menjadi begitu sengitnya. Dengan adanya dua kubu yang bertarung, memaksa terjadinya 2 pihak yang pro dan kontra. Bahkan dalam 2 minggu terakhir ini penulis bertemu dengan 3 klien yang para pegawainya “terbelah dua” . Ada yang ngotot memilih pihak pertama, ada juga yang berkeras memilih pihak kedua. Tambah seru karena kedua belah pihak masing masing bertahan dengan argumennya. Dimeriahkan dengan yel-yel yang memanaskan suasana, membuat ruang makan dan ruang meeting berubah menjadi ruang kampanye…..

 ==================================

Ingin mendalami manajemen bisnis? Ikuti

- Daniel on Talking Powerpoint : Klik Disini

- Daniel on Youtube :  Klik Disini

- Daniel on Presentation Slides: Klik Disini

==================================

 

.

Mengapa mereka begitu antusias ? Karena sebelumnya, masyarakat belum melihat adanya pemimpin bangsa yang benar-benar mempunyai kemampuan kepemimpinan. Memang sebelumnya kita mengalami krisis kepemimpinan. Nah, kali ini ada 2 pihak yang mengaku layak menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Apa kriteria kepemimpinan yang baik dan benar ? Coba baca 100 buku kepemimpinan, secara perlahan pembaca akan melihat benang merah faktor-faktor kepemimpinan. Saya menyebutnya sebagai Kepemimpinan 5P. Pemimpin masa depan Indonesia yang baik dan benar adalah pemimpin yang mampu menerapkan 5P yakni:

.

1. Panutan . Menjadi contoh bagi pengikutnya dengan kemauan (passion) dan karakter yang baik dan benar. Ingat : baik saja tidak cukup, harus juga benar ! Jika bingung apakah pemimpin tersebut layak dijadikan panutan, lihat saja dengan siapa ia bergaul, siapa teman-temannya dan siapa yang mau menjadi temannya !

jonan-1

Contoh pemimpin yang menjadi Panutan adalah Ignasius Jonan, . Menurut anak buahnya di PT KAI, sejak tanggal 20 Juli – sampai paling tidak hampir 15 hari – beliau masih belum pulang ke rumah demi memantau arus mudik dan balik. Beliau ditemukan terlelap tidur dalam Kereta Api ekonomi.  Foto iiu diambil oleh Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, pada 31 Juli lalu. Dirinya, dan Jonan tidak tahu kalau saat ini foto dirutnya yang kelelahan menyebar di media sosial bahkan jadi bahan tulisan Menteri BUMN, Dahlan Iskan .

2. Pensinergi. Mampu melihat kekuatan dan kelemahan anak buahnya, lalu meramunya menjadi kekuatan yang dasyat, sehingga 1 + 1 tidak lagi menjadi 2 , namun bertambah menjadi 3 atau bahkan 4 !

van gaal

Siapakah pemimpin di Indonesia yang menonjolkan karakter ini? Di luar negeri, karakter pensinergi ini terlihat kuat pada pelatih baru MU yang berasal dari Belanda, yakniVan Gaal. Beliau  mampu membuktikan di ajang International Champions Cup – kemampuan meramu kekuatan dan kelemahan para pemain menjadi satu kesatuan –  mampu membuat MU meraih empat kali kemenangan, termasuk mampu mengandaskan Real Madrid dan Liverpool.

.

 3. Pemberdaya. Mendorong motivasi dan memberikan pembekalan teknis agar anak buah mencapai kinerja puncak, melalui talenta yang sebenarnya sudah ada di dalam dirinya sendiri. Pemberdaya juga mengharuskan pemimpin untuk genba (langsung terjun ke lapangan), agar dapat melihat dan merasakan langsung – fakta fakta yang terjadi dilapangan (genbutsu), sehingga bisa memprediksi kemungkinan apa lagi yang akan terjadi (genjitsu). Ia-nya juga mampu menciptakan pemimpin baru yang berkualitas. Leader creates Leaders. Karenanya siapapun presidennya kelak, beliau juga sudah harus mempersiapkan kaderisasi untuk pemilu di tahun 2019 – 2024 dan seterusnya. Memang pemimpin harus dipersiapkan sejak dini.

michael d ruslim

Contoh paling tepat dari karakter Pemberdaya ini adalah almarhun Michael D Ruslim dari Astra. Beliau begitu sabar membimbing dan melahirkan calon pemimpin Astra masa depan. Pada saat penulis mewawancarai Head of Astra Amdi mengenai siapa pemimpin Astra yang paling beliau kagumi, jawabannya adalah pak Michael D Ruslim.  

 

 4. Pengarah . Membuka jalan, memberi mimpi dan harapan yang reliable, menerobos kemacetan melalui pemecahan masalah yang gampang dimengerti oleh followernya. Ya, sejatinya ia juga harus dapat menemukan akar masalah dan alasan terjadinya masalah (genri ) . Memberikan solusi yang membumi dan gampang dilaksanakan. Siapa pemimpin Indonesia yang memenuhi kriteria ini? 

 5. Pengeksekusi. Pemimpin yang baik, tidak hanya berkata “akan”, tetapi juga bisa membuktikan bahwa ia-nya “telah” melakukannya. Berbekal kompetensi teknikal dan interpersonal yang baik, ia-nya mampu merubah mindset (head), memberikan contoh nyata (hand) dan mampu menyentuh tombol perasaan manusia (heart). Ia-nya harus dapat memberikan panduan agar dapat mencapai standar yang diinginkan (gensoku).  Siapa pemimpin Indonesia yang memenuhi kriteria ini?

Nah, berbekal parameter 5P diatas, siapakah yang anda pilih?

Dalam konteks bisnis, pembaca juga dapat mepersiapkan pemimpin masa depan organisasi dengan menerapkan Kememimpinan 5P diatas. Untuk level organisasi, kita bisa belajar kaderisasi kepemimpinan dari Astra. Grup ini sanggup menyandang dan mempertahankan status sebagai The Best Well-managed company yang bergerak di berbagai bidang bisnis, mulai dari otomotif, alat berat, agrobisnis, jasa keuangan, teknologi informasi, hingga infrastruktur.

Ternyata amunisi paling ampuh yang dimiliki Astra untuk menjadi salah satu grup raksasa perusahaan terkemuka di Indonesia adalah kekuatan sumber daya manusianya. Walau banyak pemimpinnya yang dibajak perusahaan lain, Astra tidak pernah merasa kesulitan sulit mengisi pos-pos pemimpin dalam organisasinya. Astra memahami bahwa Sumber Daya Manusia memegang peran penting dalam pencapaian sukses bisnis. Merujuk pada kerangka 3W “Winning Concept, Winning System & Winning Team”, Astra selalu berusaha meningkatkan kualitas kepemimpinan sehingga mampu berkontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan.

Melalui Astra Management Development Institute (AMDI) yang berperan dalam mempersiapkan kader-kader pemimpin Astra, AMDI menekanan materi pelatihan pada unsur-unsur budaya perusahaan, kompetensi dasar, manajemen dan kepemimpinan. Berdasarkan analisa penulis, langsung atau tidak langsung,  dalam pelatihannya AMDI telah menerapkan implementasi dari konsep 5P diatas.

Timbul pertanyaan:

  • Bagaimana cara merekrut pegawai?
  • Bagaimana cara melakukan people development yang terbaik?
  • Bagaimana melakukan Performance Management?
  • Dan bagaimana mengkonstruksikan Termination Management yang benar?

Daniel Saputro.

Senior Consultant . HP: 0819-0830-9519

Email: danielbusinessdoctor@gmail.com

Categories: Uncategorized Tags:

Bagaimana mengukur level kepemimpinan?

June 15th, 2014 No comments

Saat ini sedang terjadi persaingan sengit antara dua kandidat presiden. Berbagai paramater digunakan untuk mengukur level kepemimpinan mereka. Di tingkat presidensial,  ukurannya jelas ,  misalnya paramater : ketegasan , kejujuran , paling merakyat, paling bersih dan sebagainya.

Lalu bagaimana caranya mengukur tingkat kepemimpinan di level organisasi bisnis.  Gunakan Leadership Scorecard !

Print

14120319 – Mari kita melihat  sejarah. Alexander Agung adalah salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah. Daerah taklukannya membentang dari Yunani sampai ke ke Himalaya India. Ingin bukti? Di India ada kota Bucephala yang didirikan sebagai kenangan akan kudanya – Bucephalus – yang meninggal di kota itu. Kepemimpinannya yang besar juga nyata membantunya menghancurkan Persia, pasukan terbesar pada zaman itu. Meskipun Alexander menaklukkan banyak kerajaan, namun kerajaannya sendiri tidak bertahan lama. Begitu ia meninggal, seluruh kerajaannya segera pecah. Apalagi ia-nya tidak mempersiapkan penerus. Hilangnya faktor kepemimpinan ini menyebabkan pasukannya langsung tercerai berai.

leadership-1

**************************************

Ingin mendalami manajemen bisnis? Ikuti

- Daniel on Talking Powerpoint : Klik Disini

- Daniel on Youtube :  Klik Disini

- Daniel on Presentation Slides: Klik Disini

**************************************

Leadership di bisnis. Nah, perang di dunia bisnis juga perlu kepemimpinan. McKinsey tampil dengan faktor Style dalam 7S nya untuk memperkenalkan pentingnya unsur kepemimpinan. Hal yang sama juga dipertegas oleh David G Thomson dalam The 7 Essentials of High Growth Companies. Ia bahkan menambahkan rumus baru yakni: Apply inside-outside leadership to the entire management team. Artinya terapkan duo kepemimpinan terpadu, satu yang menghadapi pihak eksternal, (pasar, pelanggan, aliansi, dan masyarakat) sementara lainnya menangani operasi internal.Jadi bakat yang terdapat pada manajemen saling melengkapi satu sama lain. Karenanya perusahaan bisa mengatasi tantangan yang terjadi di internal maupun eksternal. Semuanya ditangani dengan baik. Contohnya bisa ditemukan di Microsoft (Bill Gates dan Steve Balmer) dan Apple (dulunya Steve Jobs dan Tim Cooks). Mereka ibaratnya seperti pasangan Batman dan Robin.

Topik pelatihan kepemimpinan karenanya jadi laris manis. Banyak perusahaan mengirimkan orang-orangnya agar dengan instant bisa mendapatkan ilmu kepemimpinan yang “baik”. Yang “baik”? Ya, karena kebanyakan mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang dinilai “baik” oleh bawahannya sehingga mampu mempengaruhi mereka. Ingat kata bapaknya Leadership – Dr. John C. Maxwell: “Leadership Is Influence: Nothing More, Nothing Less. . Masalahnya, apakah itu cukup?

Leadership harusnya ”baik dan benar”. Sayangnya, dalam perang bisnis yang makin kejam ini, kepemimpinan yang ”baik” tidaklah cukup. Tidak cukup hanya membuat pengikut setia dan mau mengikuti petunjuk pemimpinnya. Kepemimpinan yang ”baik” itu harus diimbangi dengan kepemimpinan yang ”benar”, dalam arti harus bisa mencapai tujuan perusahaan. Percuma bila kepemimpinan hanya membuat bawahan senang, tetapi perusahaan menderita kerugian. Artinya harus ada kontribusi kepemimpinan yang bisa diukur terhadap organisasi dan pemegang saham.

Keyakinan ini awalnya mendapatkan pembenaran dari ”mbah”nya manajemen, Peter F Drucker melalui wasiatnya – Management by Objectives (MBO) – di 1954 dalam buku The Practice of Management. Intinya setiap individu dalam organisasi harus bergerak bersama mencapai tujuan yang terukur. Ini tentunya membutuhkan kepemimpinan yang ”benar”. Beliau juga memperkenalkan isitilah baru – yang sampai sekarang masih dipakai – yakni S.M.A.R.T. Singkatan dari Specific, Measurable, Agreed, Realistic dan Time related. Perhatikan adanya kata-kata measurable di S.M.A.R.T. Artinya kalau mau maju, ya harus bisa diukur. ”What gets measured gets done”, pesan Drucker.

Semuanya ini semakin dipertajam saat Balanced Scorecard (BSC) dengan 4 perspectivenya merasuki cara manajemen puncak mengelola organisasi. BSC yang menyeimbangkan peran financial dengan peran lainnya (customer-internal process-learning growth) memang punya unsur magis yang tinggi. Karenanya mulai timbul gelombang pemikiran akan pentingnya kuantifikasi kepemimpinan yang seimbang.

Bagaimana mengukur kepemimpinan yang seimbang? Emmett Murphy pernah mencobanya dalam Leadership Intelegence Quotient (LIQ).Selama 6 tahun, ia mempelajari 18.000 manajer di 562 organisasi besar dan kecil di hampir semua jenis industri. Baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia. Diidentifikasi lebih dari 1.000 individu yang menunjukkan kemampuan kepemimpinan luar biasa. Lalu Murphy mengisolasi ciri khas kepemimpinan itu. Diklaim hasil penelitiannya diuji coba di GM, AT & T, IBM, McDonald, Johnson & Johnson, Xerox, dan Chase Manhattan. Walau dilaporkan berhasil baik, namun LIQ masih belum terkoneksi dengan BSC.

Jawaban yang lebih pas dari pertanyaan diatas, muncul dari Dave Ulrich, Jack Zenger dan Norman Smallwood dalam Results-based Leadership. Disebutkan bahwa kepemimpinan yang efektif sebenarnya adalah hasil kali antara attribute kepemimpinan (seperti karakter, gaya, nilai dan seterusnya) dengan hasil yang dicapai. Ada 4 parameter hasil yang seharusnya diukur yakni: hasil bagi pegawai (employee results), hasil bagi organisasi (organization results) , hasil bagi pelanggan (customer results) dan hasil bagi investor (investor results). Penulis menyebutnya sebagai Balanced Leadership Scorecard.

leadership-2

Apa saja yang diukur pada employee results? Banyak, misalnya: fungsi pemberdaya (seperti penciptaan lebih banyak pemimpin dan mendorong inovasi) , fungsi panutan, dan trust. ”Leadership is about managing people, not structure, “ kata Robby Johan saat membenahi Garuda Indonesia. Bagaimana dengan penciptaan Entrepreneurship Skills? Penulis mengusulkan agar istilahnya diganti saja menjadi Intrapreneurship, yang berarti berjiwa entrepreneur namun tetap di dalam (intra) perusahaan. Berbahaya kalau tetap menggunakan istilah Entrepreneurship. Dikawatirkan profesionalnya pada keluar dan menjadi pesaing baru.

Pengukuran fungsi pensinergi (contohnya penyelarasan antar departemen) dan fungsi pendobrak (misalnya mendorong perubahan bergerak maju , clearness, dan menangani kompleksitas bisnis) patut dipertimbangkan pada organization results.

Tentunya pengukuran fungsi eksekusi yang berdampak terhadap pelanggan (seperti co-creation dengan customer dan peningkatan customer intimacy) pantas dimasukkan dalam customer results. Garuda di 1998, penerbangannya sering terlambat. Jelas konsumen pada kecewa. Ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP) Garuda hanya sekitar 80-an persen, sementara rata-rata industri di atas 90%. Maka dibuat target mencapai OTP di atas 90% dan hasilnya? Berhasil mencapai 94%!

Lalu apa yang akan diukur pada investor results? Gampang. Cukup G.L.E.P (yakni Growth, Liquidity, Efficiency dan Profitability), kata Rodolfo Balmater – pakar keuangan dan mantan Ernst & Young – kolega penulis di NACD (National Associations of Commissioners and Directors). Penulis sendiri ingin menambahkan satu faktor lagi yakni: Contribution to Society agar makin sustainable. Bagaimana pendapat anda?

leadership-3

Lessons Learned. Kepemimpinan tidak cukup mengandalkan faktor ”baik”. Harus ditambahkan faktor ”benar” sehingga seimbang. Kepemimpinan juga sebaiknya bisa diukur agar bisa disempurnakan. Tantangan berikutnya adalah: bagaimana memasukkan unsur Balanced Leadership Scorecard ini kedalam KPI Individu? Bagaimana pembobotannya? Ada saran?
Daniel Saputro

Senior Corporate Advisor, Pengajar dan Facilitator MiniMBA. Email: danielbusinessdoctor@gmail.com

Categories: Uncategorized Tags: