Archive

Archive for October, 2014

Membedah Biznet – Jaringan Serat Optik

October 12th, 2014 No comments
Konsumen Ritel Lebih Fleksibel
 
Aksi Biznet membangun jaringan serat optik sepanjang 4.000 kilometer untuk meraih konsumen ritel, merupakan bagian dari strategi pemasaran Blue Ocean. Jadi, Biznet memilah beragam jenis konsumen berdasarkan kategorisasi sehingga bisa memasuki ceruk pasar belum penuh tapi menguntungkan.
 
 http://johnsavageau.files.wordpress.com/2010/03/biznet.jpg
       
Daniel Saputro, pengamat manajemen dan marketing, menilai, Biznet sudah sukses di lingkar pertama yakni konsumen institusi. Kini, saatnya Biznet menggarap konsumen lingkar berikutnya, yaitu konsumen ritel.
 
http://www.qad.com/Public/Collateral/biznet-framework.png
Strategi ini juga diterapkan oleh perusahaan lain, salah satunya Citibank. Bank asing asal Amerika Serikat ini semula menggarap kredit untuk nasabah institusi dan belakangan malah gencar menyasar konsumen individu.
 
Konsumen ritel di Indonesia memang terbilang seksi bagi para pelaku pebisnis. Lihat saja, produk domestik bruto (PDB) dalam beberapa tahun terakhir ini lebih banyak digerakkan oleh sektor konsumsi rumahtangga. “Langkah Biznet ini sudah tepat karena masuk ke tanah yang subur,” ujar daniel.
 
Selain pembangunan infrastruktur, dia menyarankan, Biznet harus mulai membenahi sumberdaya manusia (SDM). Pasalnya, ada perbedaan karakter antara konsumen institusi dan ritel. Konsumen institusi terkesan kaku karena harus melewati proses penawaran dan lelang. Sedangkan konsumen ritel memiliki karakter lebih fleksibel. Karakter tersebut berbeda di masing-masing daerah. Makanya, materi iklan dan promosi yang akan digunakan harus pula berbeda-beda.
 
Biznet juga perlu memastikan, apakah kultur perusahaan sudah siap menghadapi konsumen ritel yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan institusi. Maklum, “Masuk ke ritel itu untungnya lebih kecil dan lebih capek. Berbeda dengan konsumen institusi,” cetus Daniel.
 
http://www.samprasoft.com/sites/all/themes/theme551/images/retail_industry.png
 
Persaingan layanan internet saat ini juga tergolong ketat. Yang membedakan adalah, Biznet menggunakan jaringan kabel optik sedangkan operator seluler mengandalkan satelit. Jadi, Biznet harus benar-benar tahu target konsumen ritel yang diincar sehingga berhasil memenangkan persaingan.
 
Interview dengan:
Revi Yohana Simanjuntak
Journalist KONTAN, Kompas Gramedia Group
Categories: Uncategorized Tags:

Membedah Blackberry

October 12th, 2014 2 comments
Bisa Eksis dengan Membuat Keunikan
 
Daniel Saputro, pengamat manajemen dan marketing, menilai serangkaian langkah yang dilakukan BlackBerry belakangan ini memang dibutuhkan untuk menyelamatkan perusahaan. Ini konsekuensi karena BlackBerry sempat tertidur saat Android mulai naik. Apalagi, sistem operasi terbaru BlackBerry 10 dinilai tidak user friendly sehingga banyak menuai protes dari para penggunanya. Jadi, salah satu cara untuk mempertahankan perusahaan adalah menghentikan pendarahan alias memangkas jumlah pegawai yang terlalu besar.
 
http://blogs.ubc.ca/bradenparker/files/2011/02/android-vs-apple-vs-blackberry.jpg
 
Namun, Daniel menilai langkah tersebut tidak cukup. Jika ingin tetap eksis, BlackBerry harus melakukan perubahan dan mengedepankan keunikan atau diferensiasi. Keunikan ini bisa dibuat melalui tiga hal, yakni content, context, dan infrastructure. Dari sisi content, BlackBerry harus memiliki produk yang unik dan berbeda untuk dijual.
Langkah BlackBerry memasuki layanan keamanan data juga cukup prospektif. Mereka bisa menyasar pasar korporat maupun personal dengan iming-iming keamanan data. Apalagi, ponsel pintar berbasiskan sistem operasi Android dianggap kurang mumpuni dalam hal keamanan data.
 
Daniel juga mengapresiasi langkah BlackBerry membuka aplikasi percakapan BBM untuk pengguna Android dan ponsel iPhone. “Hal ini bisa menjaga konsumen yang ada,” imbuhnya.
 
 http://media.tumblr.com/tumblr_ledbx3fNHi1qzpycl.jpg
 
Ke depan, BlackBerry juga perlu inovatif dalam mengembangkan layanan BBM. Misalnya, membuat terobosan baru. “Chat text sudah biasa. Tren masa depan adalah mengombinasikan audio dan video sehingga bisa tatap muka dalam berinteraksi. Ini yang harus dikembangkan di BBM,” kata daniel. Nah, jika BBM semakin inovatif dan banyak penggunanya, tidak tertutup kemungkinan menawarkan paket premium berbayar atau disisipi iklan produk.
http://www.videoconverterfactory.com/news/imgs/google-vs-iphone.jpg
 
Dari sisi context, BlackBerry bisa membuat inovasi cara penjualan. Misalnya, dengan membundel paket keamanan data bersama paket aplikasi video conference untuk korporat. Cara lainnya seperti menjual ponsel gratis yang dibundel dengan paket data dan pulsa. Keuntungannya diperoleh dari pemakaian paket data dan pulsa tersebut. Metode ini sudah diterapkan di luar negeri.
Dari sisi infrastruktur, melakukan inovasi jaringan distribusi. Misalnya, menjual secara online atau di toko ritel modern. daniel menggarisbawahi, BlackBerry tak harus meninggalkan bisnis intinya agar dapat bertahan. Apalagi, pasar BlackBerry di Indonesia masih bagus. “BlackBerry harus bisa menjaga pasar Indonesia dengan baik,” tandasnya. 
 
 
Interview dengan
Revi Yohana Simanjuntak
Journalist KONTAN, Kompas Gramedia Group
Categories: Uncategorized Tags:

Membedah Handphone Bolt – PT Internux

October 12th, 2014 No comments
Pelanggan Bertambah, Penjualan Urusan Kedua
 
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk memacu pertumbuhan bisnisnya. Salah satunya adalah meluncurkan produk baru, seperti yang dilakukan oleh PT Internux. Pemilik merek dagang Bolt ini baru saja merilis produk ponsel pintar (smartphone) pertamanya.
 
http://images.cache.inkuiri.com/i/large/cdn.kaskus.com%2Fimages%2F2014%2F08%2F16%2F87683_201408161044260064.png
 
 
Menurut Daniel Saputro, pengamat manajemen dan marketing, ada tujuh cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk bertumbuh. Salah satunya adalah memasuki industri yang sedang subur. Di Indonesia, industri ponsel pintar memang tengah semarak. “Industri ini tumbuh 40% hingga 60% setiap tahunnya,” ujarnya. Karena itulah langkah Internux menjual paket data dengan membundel ponsel pintar merupakan langkah yang tepat.
Alasan lainnya, Bolt tentu ingin menambah jumlah pelanggan melalui cara memberikan alternatif produk kepada masyarakat. Makanya, Daniel menilai, saat ini Bolt tidak berfokus mencari keuntungan melalui penjualan ponsel. Meskipun, mungkin beberapa tahun ke depan, penjualan ponsel bisa dijadikan alternatif pendapatan perusahaan.
Agar pelanggannya bertambah banyak, Bolt bisa melakukan berbagai strategi pemasaran dan promosi. Daniel menyarankan, Bolt dapat menggunakan strategi lain, yakni menciptakan konsumen yang sukarela memberi komentar atau testimoni tentang kecepatan paket datanya. Strategi pemasaran seperti itu disebut Word of  Mouth.
Bolt sebaiknya fokus memasarkan produknya di kalangan anak muda yang identik dengan saling berbagi informasi tentang apa pun produk atau jasa yang digunakannya. Dengan menjaga segmen tersebut, di berbagai jejaring sosial, misalnya, pelanggan paket data Bolt bisa semakin banyak.
 
Namun, Daniel juga mengingatkan, berbagai produk itu hanyalah pelengkap karena layanan utama Bolt adalah menjual data yang berkualitas kepada para konsumen. Alhasil, Bolt harus menjaga akses dan kecepatan data tersebut.
http://images.detik.com/content/2013/11/15/1146/bolt-9.jpg
 
Sebagai pengguna Bolt, Daniel mengaku, akses internet Bolt lebih cepat ketimbang operator GSM biasa. Dengan Bolt, ia bisa memperoleh kecepatan hingga 4 Mbps, sementara operator GSM sekitar 1 Mbps. “Namun, di beberapa daerah sinyalnya masih kosong, dan kadang timbul tenggelam,” tukasnya.
Menurut dia, Bolt saat ini masih dipakai sebagai cadangan dalam mengakses data internet dari penyedia layanan internet lainnya. Dengan meningkatkan kualitas sinyal, Bolt bisa menjadi perangkat utama untuk mengakses internet tanpa perlu lagi menggunakan provider lain. “Dasar pentingnya adalah kualitas, kalau jelek dan lambat nanti bisa ditinggalkan,” ujarnya.
 
http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/internux-bolt.jpg
 
Interview dengan
Revi Yohana Simanjuntak
Journalist KONTAN, Kompas Gramedia Group
Categories: Uncategorized Tags:

Membedah Kawasaki Motor Indonesia

October 12th, 2014 No comments
Harapan Kawasaki Motor Indonesia untuk menegaskan mereknya sebagai motor sport premium sah-sah saja. Untuk mencapai harapan tersebut, distributor motor asal Jepang ini dapat memoles produk atau layanannya kepada konsumen. 
 
 http://3.bp.blogspot.com/-K_B37zl0IQY/TsqeiUcv4mI/AAAAAAAAAMU/5CPkpLoESqY/s1600/Ninja+ZX-150+RR+by+cool+images786+%25285%2529.jpg
 
Namun, menurut pengamat marketing dan manajemen Daniel Saputro, klaim premium tersebut tidak bisa dinyatakan sepihak. Pasalnya, label premium itu pada akhirnya ditentukan dan bakal dinilai sendiri oleh konsumennya. “Produsen boleh saja mengklaim mereka premium, tapi kalau konsumen tidak merasakan perbedaannya, ya sama saja dengan kelas biasa,” imbuhnya.
Nah, karena itu, Kawasaki harus berusaha keras mengubah pandangan atau mindset konsumennya, maupun masyarakat umumnya di Indonesia. Menurut Daniel, membangun atau merebut mindset masyarakat membutuhkan program yang berkelanjutan. Dengan begitu, secara perlahan dan dalam jangka panjang bakal tercipta citra yang melekat di benak konsumen terhadap produk tersebut.
Ia menilai, strategi Kawasaki membenahi tampilan dan fasilitas diler serta sistem ketersediaan sukucadangnya sudah baik untuk membuat konsumen merasakan suasana yang lebih baik. Namun, di luar itu, ada dua strategi yang bisa dilakukan perusahaan untuk mengubah mindset masyarakat dan konsumen terhadap suatu brand.
 
Pertama, melakukan promosi yang digabungkan dengan komunikasi pemasaran yang sesuai dengan segmen yang ingin dibidiknya. Salah satu caranya adalah menunjuk duta merek atau brand ambassador yang sesuai dengan definisi citra yang ingin dibangun. “Misalnya, untuk pasar premium, pilihlah brand ambassador seorang eksekutif sukses atau pengusaha muda,” ujar Daniel.
 
Kedua, menunjukkan diferensiasi atau keunikan produknya. Jangan lupa, cek juga posisi pesaing, apakah produk Kawasaki bisa unggul di satu hal dibandingkan dengan pesaingnya.
 
Di segmen Premium high class, menurut Daniel, sudah ada merek motor Ducati maupun Harley Davidson yang menjadi pilihan para penggemar motor sport. Sementara itu, jika ingin premium di level middle class, maka Kawasaki harus bersaing dengan Yamaha dan Honda.
 
http://img.youtube.com/vi/BCYbeLmaceg/0.jpg
 
“Kita lihat, Yamaha itu terkenal di ajang F1 karena RX King terkenal cepat, sementara Honda terkenal irit. Nah, Kawasaki harus mengambil posisi dan spesifikasi juga, mau dikenal seperti apa?” tukas Daniel. Dengan begitu, Kawasaki dapat memberikan alasan dan argumen kuat kepada konsumen untuk membeli motornya dibandingkan produk sejenis di kelasnya.
 
Interview dengan:
Revi Yohana Simanjuntak
Journalist KONTAN, Kompas Gramedia Group
 
——————————————————————————————————————————————–
 
Isi Tulisan Utama:
 
Rajin Bersolek demi Memuaskan Pelanggan
Revi Yohana Simanjuntak
 
 
Meski tahun 2015 masih sekitar tiga bulan lagi, PT kawasaki motor Indonesia (KMI) sudah menyiapkan dengan tampilan baru. Langkah ini sejalan dengan pembenahan yang dibesut distributor motor asal Jepang tersebut untuk memperkuat merek di segmen motor premium. Perubahan itu akan berlangsung dari perbaruan konsep diler, perbaikan layanan purnajual (aftersales), hingga pendekatan diri dengan komunitas konsumen. “Targetnya, tahun depan sudah berubah wajah semua,” ujar Michael Chandra Tanadhi, Head of Sales, Marketing & Promotion kawasaki motor Indonesia.
 
Di Indonesia, selama ini kawasaki memang dikenal sebagai merek motor sport, khususnya melalui merek motor Ninja. Meski begitu, kawasaki berharap dapat memposisikan diri berbeda dengan penyedia motor sport lain. “Ke depan, kami akan menjadi premium brand untuk motor sport nomor satu di Indonesia,” imbuh Michael. Citra premium inilah yang akan ditekankan untuk memposisikan diri berbeda dari merek motor sport lain. Sebagai gambaran, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia, pangsa pasar kawasaki di pasar motor sport Indonesia saat ini masih 14% alias menempati posisi ketiga setelah Yamaha dan Honda. Sementara itu, di pasar penjualan motor secara keseluruhan, pangsa pasar kawasaki cuma 2%. Nah, demi memantapkan posisinya di pasar, mereka memilih memperkuat brand image kawasaki sebagai motor premium. Untuk itu mereka menyasar segmen pasar kelas menengah atas sesuai dengan produk dan spesifikasi penggunanya. “Memperkuat brand image ini penting demi menjaga konsumen dan kelangsungan penjualan kami,” kata Michael.
 
Dalam rangka memperkuat citra tersebut, kawasaki telah membuat sejumlah rencana pembenahan diri sejak akhir tahun lalu. Setidaknya, ada empat pembenahan utama yang tengah berlangsung hingga tahun depan.
 
Pertama, kawasaki akan mendandani ulang seluruh diler miliknya dengan konsep khusus. Selama ini tampilan diler kawasaki di seluruh Indonesia sama dan memiliki standar laiknya diler motor maupun mobil merek lain. Nah, kawasaki akan mengubah konsep tersebut, yaitu mendandani setiap diler dengan konsep tertentu. Misalnya, ada diler berkonsep futuristik, retro, modern, dan sebagainya. Selain dekorasi yang menarik, bagian dalam diler dilengkapi dengan kafe dan lounge bagi pelanggannya. Dengan begitu, bisa memberikan nuansa serta pengalaman baru dan berbeda bagi setiap pengunjung diler kawasaki. Michael mengungkapkan, langkah tersebut ditempuh lantaran menyadari motor kawasaki adalah motor gaya hidup sehingga perlu juga memperhatikan gaya hidup konsumennya. “Jadi mereka kalau lihat diler kami akan tertarik masuk karena konsepnya beda,” ujarnya.
 
Selain mendandani tampilan, kawasaki juga melengkapi beberapa diler dengan peralatan uji, antara lain dyno test. Dus, pelanggan dapat melihat langsung pengetesan tenaga dan kecepatan motornya setelah diservis. Tak cuma itu, suasana, layanan dan pakaian para petugas juga diperbaiki. Untuk mengubah perwajahan diler tersebut, kawasaki menggelontorkan banyak modal. Setiap diler butuh dana sekitar Rp 1 miliar untuk mengubah konsepnya. Maklum, Michael mengklaim, kawasaki menggunakan jasa desainer ternama di Jakarta plus desainer dari Jepang. Saat ini kawasaki punya 260 diler yang tersebar di Indonesia. Jadi, total dana yang dibutuhkan untuk hajatan itu sekitar Rp 260 miliar.
 
Memoles diler Pembenahan diler tersebut sudah dimulai sejak awal 2013 dan diharapkan rampung pada akhir tahun 2015. Di Jakarta, diler kawasaki dengan konsep baru tersebut sudah bisa dilihat di cabang Bintaro, Jakarta Selatan, yang menggunakan konsep futuristik. Peningkatan citra merek juga dibentuk dari produk penunjang yang tersedia dalam diler. Misalnya, untuk menyediakan air mineral di dalam diler, kawasaki bekerjasama dengan Pristine. Kemasan air mineral itu akan dibuat dengan nama dan logo kawasaki. Sebelumnya, kerjasama sejenis sudah dirajut dengan merek lain. “Tapi brand-nya dirasa kurang premium,” kata Michael. Adapun, air mineral merek Pristine juga dipakai di seluruh gerai Starbucks yang tampaknya memiliki kesamaan karakter dengan target pasar kawasaki. Selain itu, ada pula aneka permen dengan kemasan merek kawasaki. Beberapa produk tersebut terkesan sepele, namun secara tak langsung dianggap bisa meningkatkan citra sebagai merek motor premium.
 
Kedua, membenahi layanan purnajual, khususnya terkait sistem pengecekan secara online untuk ketersediaan sukucadang. Menurut Michael, ?sejak awal 2013 sering menerima keluhan dari konsumen mengenai sukucadang kawasaki yang susah didapat dan pengadaannya terbilang lama. “Padahal sebenarnya ketika kami cek, di pusat ada stok. Jadi mungkin miskomunikasi dengan diler dan kesalahan di stock system kami,” ujarnya. Makanya, kawasaki akan membuat sistem stock online yang terintegrasi dengan seluruh diler kawasaki di Indonesia. Jadi, diler bisa mengetahui ketersediaan sukucadang di kantor pusat. Begitu pula pihak kantor pusat dapat memantau stok seluruh diler agar tidak muncul lagi keluhan pelanggan soal kelangkaan suku cadang. Sistem pengecekan stok secara online ini sudah dimulai akhir 2013 dan diharapkan selesai tahun depan. “Rencananya dibuat bertahap, karena memang sebelumnya stock system kami tidak online,” ujarnya. Tak cuma itu, manajemen kawasaki berencana terjun langsung ke diler untuk mengecek ketersediaan stok. Sehingga, pelanggan bakal merasa lebih aman, yakin, dan pasti atas ketersediaan suku cadangnya.
 
Ketiga, kawasaki berencana meningkatkan hubungan dengan konsumen melalui pendekatan dengan komunitas-komunitas pecinta motor kawasaki. Hingga kini, menurut Michael, ada ratusan nama klub atau komunitas motor kawasaki, khususnya motor Ninja. Anggota komunitas ini sudah mencapai puluhan ribu orang. Sebagai contoh, komunitas yang terbesar di Indonesia adalah kawasaki Ninja Indonesia (KNI), yang memiliki banyak anak dan cabang. Di Jakarta saja, misalnya, ada sekitar 45 cabang KNI. Komunitas maupun klub tersebut selama ini belum dirangkul secara baik oleh kawasaki lantaran hanya membuat acara dan menjalin komunikasi langsung dengan diler. Nah, mulai awal tahun ini, kawasaki akan mengadakan kegiatan rutin dengan komunitas. Misalnya, setiap minggu digelar acara hangout dengan komunitas yang diadakan langsung oleh kawasaki. Selain itu, kawasaki rutin mengundang anggota komunitas untuk touring dan nongkrong bareng. Menurut Michael, langkah ini penting karena anggota komunitas itu sebetulnya merupakan konsumen paling setia atau loyal terhadap perusahaan. “Kami mau mereka lebih peduli terhadap induknya, sebaliknya induknya peduli juga dengan mereka agar terjalin komunikasi yang baik,” katanya.
 
Keempat, kawasaki berencana meningkatkan keahlian maupun kepribadian mekanik dan karyawan kawasaki di seluruh diler. Untuk itu, mereka rajin menggelar pelatihan keterampilan dan cara melayani konsumen secara lebih ramah. “Jumlah mekanik makin bertambah. Banyak juga mekanik baru sehingga kami mau melatih mereka terus untuk meningkatkan layanan,” kata Michael. Apalagi, untuk kelas premium, yang dituntut dari seorang mekanik bukan cuma keahliannya tapi juga kepribadiannya dalam melayani pelanggan. Untung Leonardus, salah seorang pengguna kawasaki, menilai layanan purnajual kawasaki terasa lebih baik saat ini dibandingkan dengan diler motor lain. Misalnya, pelayanannya cukup ramah. “Ketika datang servis, pasti ditanya dan didengar keluhannya,” katanya. Tapi, pengendara motor kawasaki Ninja 250 sejak dua tahun terakhir ini merasa layanan seperti itu masih belum tergolong kelas premium. Yang lebih penting, kata pria berusia ?40 tahun ini, kawasaki lebih memperhatikan dan membina konsumennya dengan membuat kartu keanggotaan atau memberi informasi secara berkala terkait motor sport, variasi, dan perawatannya.
 
Merambah ke timur Michael mengakui, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi kawasaki untuk mengembangkan citra mereknya. Pertama, investasi yang dibutuhkan cukup besar. “Untuk membuat inovasi, investasi pun harus besar,” katanya. Investasi besar itu tidak cuma untuk mengubah tampilan fisik diler, namun juga meningkatkan kemampuan para teknisi dan karyawan. Nah, beragam pelatihan untuk meningkatkan kemampuan itu membutuhkan investasi besar. Tantangan kedua adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Susah-susah gampang untuk membentuk SDM yang berkualitas dalam memberi pelayanan. Maklum, melayani konsumen tipe premium ini berbeda sehingga kualitas SDM harus terus ditingkatkan. Meski begitu, Michael optimistis strategi yang dijalankan tersebut merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, kelas ini terbilang loyal terhadap satu brand jika mereka merasa sudah puas dalam menggunakan produk dan pelayanannya. Harga pun tak jadi soal. “Konsumen premium itu bakal loyal kalau mereka puas. Kalaupun mereka pindah produk lain, akan kembali lagi ke kami kalau mereka tidak puas dengan produk lain tersebut,” katanya. Pada tahun ini hingga tahun depan, kawasaki memang fokus untuk memperkuat citra mereknya sebagai motor sport premium.
 
Setelah itu tercapai, mereka akan melakukan sejumlah pengembangan lain. Jika tahun ini belum menambah diler baru, maka tahun depan sudah direncanakan penambahan 40 diler baru. Pembukaan diler baru tersebut akan lebih banyak di luar Jawa. Termasuk menggarap pasar Indonesia Timur tahun depan dengan membuka diler di Ternate dan Papua. Menurut Michael, gambaran pasar di Indonesia Timur bagus untuk motor Ninja seri dua tak dan tipe trail off road karena sesuai dengan kondisi jalan di sana. Berbagai pembenahan dan ekspansi usaha itu bertujuan untuk mendongkrak penjualan. Hingga akhir Agustus lalu, total penjualan motor kawasaki Indonesia sebanyak 107.000 unit, meningkat sekitar 20% dari periode sama tahun lalu. “Hingga akhir tahun ini, kami targetkan penjualan bisa mencapai 200.000 unit,” ujar Michael.
Categories: Uncategorized Tags: